Minggu, Januari 11, 2009

KM dan IMPLEMENTASI

KNOWLEDGE MANAGEMENT

dan

IMPLEMENTASINYA

Knowledge management (KM) atau manajemen pengetahuan adalah sebuah nama yang menunjuk pada sebuah konsep pada sebuah organisasi yang meliputi proses pengaturan, pertukaran, analisis dan penyebaran pengetahuan dari sumber pengetahuan yang ada seperti dokumen dan keahlian personal setiap orang didalam organisasi tersebut. Knowledge management juga dianggap sebuah bidang baru dalam dunia bisnis yang mencakup kombinasi kumpulan proses, struktur organisasi, aplikasi dan teknologi yang kemudian digunakan untuk membangkitkan pengetahuan setiap SDM dalam organisasi.

KM membawa keuntungan pada pemanfaatan dan efektifitas sumber daya yang terdapat didalam sebuah organisasi dengan menempatkan teknologi informasi sebagai alat bantuannya. Didamping itu, KM juga yang menghadirkan pertukaran informasi yang bermanfaat bagi sebuah organsasi dan seluruh komponen yang terdapat didalamnya.

Dalam manajemen pengetahuan, terdapat persoalan dan kebingungan yang terjadi baik yang menyangkut konsepsi pengetahuan itu sendiri maupun praktek manajemen pengetahuan. Selain itu, semakin luas dan kompleksnya kajian manajemen pengetahuan dapat memperparah kebingungan tersebut.

Alternatif solusinya adalah:

  • Melakukan klarifikasi atas konsepsi pengetahuan
  • Mengupayakan pemetaan atas hasil kajian manajemen pengetahuan yang ada selama ini.

Manfaat dari upaya ini tentu menyediakan petunjuk bagi praktek manajemen pengetahuan dan arahan bagi solusi atas persoalan pengetahuan dalam organisasi, serta memberikan peta peluang bagi pengembangan teori manajemen pengetahuan.

Implementasi manajemen pengetahuan telah berhasil meningkatkan efektivitas organisasi, memberikan value pada pelanggan, meningkatkan inovasi produk, meningkatkan kepuasan kerja karyawan, menekan retensi, dan meningkatkan keunggulan kompetitif di pasar. Hasil survei Ernst & Young for Business Innovation and Business Intelligence melaporkan inisiatif pengadopsian manajemen pengetahuan menghasilkan manfaat dalam peningkatan: pengambilan keputusan, respon kepada pelanggan, efisiensi staf dan operasi, inovasi, serta produk/jasa (dalam Housel & Bell, 2001). Oleh karena itu, penerapan manajemen pengetahuan merupakan salah satu alternatif terbaik untuk menghasilkan organisasi yang selalu siap untuk menjadi pemimpin pasar. Hal itu dapat dicapai dengan cara memperluas pasar yang sudah ada, bahkan menciptakan pasar baru (Kim & Mauborgne, 2001). Konsekuensinya, organisasi (yang memiliki kemampuan untuk menciptakan pasar baru) tidak takut dan tidak perlu lagi berkompetisi. Posisi organisasi yang sudah sedemikian kuat menjadikan kompetisi menjadi tidak relevan lagi.

Pengetahuan adalah ‘pembeda’ antara kesuksesan dan kegagalan (Marquardt, 2002). Para praktisi dan akademisi mulai tertarik untuk memperlakukan pengetahuan sebagai sumber daya organisasi yang signifikan (Alavi & Leidner, 2001).

Pengetahuan mencakup dua jenis, yakni tacit dan explicit. Ia bersifat pribadi dan melekat dalam berbagai hal dalam organisasi. Pengetahuan juga merupakan aset utama bagi organisasi. Kejelasan mengenai konsepsi pengetahuan ini dapat membantu mempermudah proses praktek manajemen pengetahuan, meskipun tidak berarti mampu menyelesaikan seluruh permasalahan yang ada.

Manajemen pengetahuan memiliki beragam dimensi yang muncul karena keluasan dan kompleksitasnya sendiri sehingga diskusi yang terjadi seringkali didasarkan pada asumsi yang tak teruji, tingkatan analisis yang berbeda, derajat pengalaman yang beragam, serta tujuan yang berbeda. Bahkan jika orang-orang yang bekerja dalam bagian atau unit kerja yang sama membahas dan mempraktekkan manajemen pengetahuan, maka potensi terjadinya kesalah-pahaman tetap besar karena tiap orang memiliki karakter pengetahuan yang berbeda yang ada di dalam benaknya.

Selain itu, pemahaman atas manajemen pengetahuan setidaknya telah berkembang menjadi empat perspektif yang berbeda. Perspektif ini menunjukkan adanya pengaruh kuat peran seseorang di dalam organisasi ketika mengintegrasikan manajemen pengetahuan dalam implementasi jangka panjang.

Berbagai perspektif tersebut adalah :

  • Perspektif strategi atau kepemimpinan, yang terjadi ketika eksekutif senior memandang manajemen pengetahuan terutama sebagai cara untuk menunjang pencapaian tujuan strategis dan persepsi pasar modal atas intangible assets.
  • Perspektif praktek atau isi pengetahuan, ketika pandangan ini dipegang oleh manajer lini yang berpengalaman karena ia sangat peduli dengan dengan pengetahuan apa yang harus dikelola dan bagaimana pengetahuan tersebut diterapkan dalam praktek.
  • Perspektif teknologi, yang didasarkan pada peran teknologi informasi yang memandang manajemen pengetahuan sebagai suatu produk penerapan teknologi informasi dan komunikasi.
  • Perspektif rekayasa atau manajemen perubahan, yang biasanya dianut oleh para spesialis pengembangan SDM dan organisasi

Tidak ada komentar: